Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2011

Fakta Kimia Dalam Al-Qur’an

Selain tentang tauhid, hukum-hukum, dan kisah-kisah, al-qur’an menyimpan banyak hal menarik di dalamnya. Dari sekian banyak bukti-bukti empiris tentang kebenaran al-qur’an, masih banyak rahasia-rahasia dalam al-qur’an yang mungkin belum bisa terpecahkan. Prediksi tentang beberapa kejadian di masa depan termaktub dalam al-Qur’an. Hal ini termasuk fakta-fakta sains dalam al-Qur’an yang memperkuat kenyataan bahwa al-Qur’an benar-benar didesain oleh sesuatu yang Maha Hebat dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu yaitu Allah SWT.
Banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang telah menunjukkan fakta-fakta ilmiah yang sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an. Harun Yahya adalah salah seorang yang masyhur mengungkap rahasia al-Qur’an tentang science baik tentang astronomi, embriologi, geologi, fisika, biologi, dan lain-lain.
Saya termasuk salah seorang yang ‘gereget’ terhadap bukti-buksi science dalam al-Qur’an. Masih banyak fakta menarik tentang kimia yang belum disentuh Harun Yahya dalam sekian banyak tulisannya. Yang mashur tentang kimia dalam alqur’an adalah mengenai firman Allah tentang besi dalam surat Al-Hadid. Al-Hadid merupakan surat ke-57 dalam al-Qur’an yang merupakan surat pertengahan dari keseluruhan surat (114 surat). Alhamdulillah, sejak saya kuliah di jurusan kimia, saya sudah hafal surat ini. “Barang siapa yang membaca surat Al-Hadid, Al-waqiah, dan Ar-Rahman maka dia akan dipanggil sebagai penghuni syurga firdaus” (Al-hadits), asyik nggak?. Gak perduli shahih, hasan, atau dhaifnya, yang jelas hadits ini memotifasi saya untuk menghafal dan membacanya setiap hari, gak rugi kan?. Beramal dengan mengetahui keutamaannya, kita akan semangat mengamalkan. Yang terpenting kita tidak memakai hadits maudhu (palsu) dalam beramal. Kalaulah memang dhaif, hadits-hadits mengenai keutamaan (bukan mengenai hukum) toh dianjurkan untuk diamalkan sebagaimana pernyataan imam Nawawi rah.a., apalagi jika shahih. Hadits ini saya ambil dari kitab Fadhilah Qur’an yang dikarang syaikhul hadits Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi rah.a., seorang hafidz, ulama, dan ahli hadits.
Alhamdulillah, sore itu aku shalat ashar berjamaah di mesjid al-Huna Husnul Khotimah. Namun, Innalillaahiwainnailaihi roji’un… ketika sholat, terbayang olehku gambar tabel periodik unsure kimia. He..he.. sholatnya kurang khusyu. MaasyaAllah, terbayang nomor atom besi itu 26 dan massanya 56 di tengah-tengah tabel. Setan berbisik, “massa besi dalam tabel periodik adalah 56, wah sama dengan nomor surat al-hadid yaitu 56? hebat nggak?” hati ini menjawab, bukannya al-hadid itu 57? ar-rahman kan 55, al-waqiah 56, baru setelah itu al-hadid, berarti 57!. Salah kali! (hati ini dipenuhi keraguan). Tapi karena menyadari sedang sholat, hati ini mengusahakan untuk segera membuang fikir-fikir lain selain tawajjuh pada Allah. “Pwuah!…pwuah!…pwuah!” aku berisyarat meludah ke sebelah kiri. Sebagaimana dalam hadits, apabila merasa diganggu syetan ketika sholat, boleh berbuat seperti itu dalam shalat. Tapi tidak perlu pakai mbrr…mbrr… khoeck chuah! Itu seperti dukun dan bias membatalkan shalat he..he.. Setelah sholat selesai, segera aku menuju kantor guru MTs, membuka komputer dan melampiaskan penasaran tentang itu semua.
Fakta ke-1
Allah SWT berfiman:  “…Dan Kami ciptakan besi….” (QS. Al-HAdid, 57:25)
Allah SWT menggunakan kata “anzalnaa” yang berarti “kami telah turunkan”. Depag menuliskannya dengan “ciptakan” sebagaimana tertulis diatas. Allah SWT tidak menggunakan kata “Khalaqna” yang berarti “kami telah ciptakan”. Penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.
Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”. Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa. Hal ini yang dahulu pernah juga sempat dikatakan oleh Neil Amstrong.
Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.
Besi : 26Fe
Istilah besi oleh orang inggris disebut sebagai “iron”, oleh orang arab disebut dengan “hadid” orang francis menyebutnya ”fer” dan orang spanyol “hierro”. Supaya tidak membingungkan, maka telah disepakati bahwa dunia sains menamakan besi dengan “Ferrum” (Fe) dari bahasa latin. Dan hal ini berlaku untuk semua nama atom, semuanya diambil dari bahasa latin (bahasa amerika selatan).
Ada rahasia apa dibalik keputusan Allah SWT dalam memberi nama salah satu surat di al-qur’an dengan memakai satu nama atom atau logam dalam sistem periodik unsur. Kita akan sedikit memabahasnya.
Fakta ke-2 : Isotop Besi
Besi memiliki 8 isotop yaitu
52Fe Waktu Paruh 8.3 jam
54Fe Stabil
55Fe Waktu Paruh 2.7 tahun
56Fe Stabil
57Fe Stabil
58Fe Stabil
59Fe Waktu Paruh 54.5 hari
60Fe Waktu Paruh 1.500.000 tahun
Al-Hadid adalah surat ke-57 dalam al-Qur’an. Fe-57 adalah salah satu dari 4 isotop besi yang stabil. Ini bukanlah kebetulan. Nomor surat ini dirancang oleh Allah yang maha mengetahui.
Fakta ke-3 : Energi Ionisasi.
Energi ini dibutuhkan oleh suatu atom untuk menjadi ion. Fe umumnya dapat berbentuk ion Fe2+ (ferro) dan Fe3+(ferri). Tahukah kamu? tubuh kita hanya mengkonsumsi Fe2+ (ferro) dari makanan. Besi jenis Ferro inilah yang bayak terkandung dalam makanan seperti daging-dagingan dan makanannya Popeye (Spinach alias bayam), termasuk obat-obatan suplemen penambah zat besi seperti sangobion, sulfaferosus, dan lain-lain. Kata ahli gizi, sebaiknya sayur bayam jangan dibiarkan lebih dari semalam, gak bagus untuk dimakan. Tetapi jarang diantara kita yang mengetahui alasannya. Ternyata, dalam beberapa jam ferro akan segera berubah menjadi ferri. Ferri di dalam tubuh adalah sampah, tubuh kita tidak mau mengambilnya karena sifat sudah berubah. Sama halnya jika besi sudah berubah menjadi karat, berubahlah sifatnya.
Perubahan Fe2+ (ferro) menjadi Fe3+(ferri) ini menghasilkan energi ionisai sebesar 2957 kJ mol-1. 29 adalah jumlah seluruh ayat pada surat al-hadid. 57 adalah nomor suratnya. Allahuakbar!
Fakta ke-4 Penjumlahan Massa Seluruh Isotop
Besi memiliki 8 isotop (kembaran) yaitu 52Fe,54Fe,55Fe,56Fe,57Fe,58Fe,59Fe,60Fe. Jika seluruh massanya dijumlahkan maka 52+54+55+56+57+58+59+60 = 451. Kata “besi” ada pada surat ke-57 dan ayat ke-25. Jumlah kata dalam surat al-Hadid dari ayat 1 sampai dengan 25 adalah 451!
Fakta ke-5 Jumlah Kata dalam surat al-hadid
Jumlah kata dalam al-hadid adalah 574. 57 adalah nomor surat al-hadid dan 4 adalah jumlah isotop besi yang stabil.

Kamis, 29 September 2011

Jatuh Cinta Itu Peristiwa Kimia

Jatuh cinta.
Mabuk kepayang.
Demam asmara.
Tergila-gila.
Istilah-istilah yang—kalau dipikir-pikir—nyentrik juga, ya? Jatuh cinta—kayaknya frasa ini bersaudara sepupu dengan jatuh sakit. Lalu, kenapa gejolak perasaan cinta yang menggelora dibayangkan sebagai ’mabuk’ dan ’demam’? Lebih gawat lagi, rasa terpesona yang berlebihan sampai meluluhlantakkan jiwa dianggap mirip dengan kondisi orang yang sedang kehilangan akal sehat.
Entah siapa yang pada mulanya mencetuskan istilah-istilah tersebut, mereka tampaknya bukan sekadar hendak membentuk rangkaian kata yang unik. Sebaliknya, mereka memilih perpaduan kata itu melalui pengamatan yang jeli atas pengalaman yang berulang-ulang: oh, rupanya orang yang sedang kasmaran itu cenderung menunjukkan gejala-gejala yang mirip dengan orang sakit, demam, mabuk, atau malah (maaf) gila.
Nyatanya, pengamatan tersebut jitu. Anda yang pernah mengalami getaran gelombang cinta tak ayal akan mengamininya. Cinta membikin kita panas-dingin ’menderita’, namun juga menawarkan kepuasan yang membuat kita serasa melayang di awan. ’Sakit’, namun sekaligus nikmat menimbulkan ketagihan. Bahasa sinetronnya: termehek-mehek. Bukankah begitu?
Lebih jauh lagi, bukan hanya berdasarkan pengalaman, pengamatan itu ternyata juga bisa diteguhkan secara ilmiah. Sejumlah penelitian mendapati bahwa orang yang sedang jatuh cinta tubuhnya mengalami proses kimiawi yang serupa dengan orang yang sedang kecanduan. Cinta rupanya bukan hanya suatu gelora perasaan, namun juga melibatkan aktivitas berbagai hormon tubuh.
Sebuah penelitian menunjukkan, berpandangan berlama-lama saja sudah berpengaruh hebat terhadap keterpikatan orang satu sama lain. Profesor Arthur Aron dari State University of New York mengamati apa yang terjadi ketika orang jatuh cinta dan menemukan efek dahsyat pandangan mata. Dalam salah satu eksperimennya, ia meminta orang-orang berlawanan jenis yang tidak saling mengenal untuk bertemu selama 90 menit dan membicarakan hal-hal yang intim tentang diri mereka. Kemudian ia meminta mereka saling menatap mata selama 4 menit tanpa berbicara. Hasilnya? Banyak peserta eksperimen merasakan keterpikatan yang mendalam terhadap mitranya setelah uji coba tersebut, dan dua orang di antaranya bahkan menikah enam bulan kemudian.
Apa sebenarnya yang terjadi ketika kita pertama kali jatuh cinta? Jatuh cinta memicu sejumlah reaksi kimia di dalam otak dan sekujur tubuh kita. Gejala-gejala yang lazim ditemui: jantung berdegup lebih kencang, pipi memerah, telapak tangan berkeringat. Serba membuat salah tingkah sampai tenggorokan tanpa alasan terasa gatal dan Anda ingin batuk-batuk, ya kan?
Menurut para peneliti, gejala-gejala itu muncul karena tubuh melepaskan bahan-bahan kimia yang menyulut perasaan cinta, seperti dopamine dan norepinephrine. Dopamine itu bahan kimia pemicu rasa senang, membuat kita bahagia melayang-layang. Norepinephrine mirip dengan adrenalin, berfungsi memacu jantung dan memantik gairah. Paduan kedua bahan kimia itu membangkitkan kegembiraan, energi yang kuat, dan perhatian yang terfokus, namun juga membuat orang gelisah susah tidur, kehilangan selera makan, dan ketagihan. Nenek moyang kita, ketimbang menggunakan istilah yang membikin lidah tergigit, secara cerdas cukup menyebutnya sebagai mabuk kepayang.
Itu masih dalam tahap ”cinta pada pandangan pertama”. Bila gayung bersambut, jika si dia yang didambakan ternyata merasakan getaran yang sama, dan keduanya sepakat untuk menautkan rasa, mereka akan melangkah ke tahap hubungan selanjutnya. Sejoli yang dilanda asmara ini akan memasuki tahap keterpikatan, tahap romantis, atau yang umum dikenal sebagai masa pacaran.
Melalui alat yang bernama Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI), peneliti dapat memindai apa yang berlangsung di dalam otak orang sewaktu mereka memandangi foto sang kekasih. Hasil scan terhadap orang yang tengah tergila-gila pada pasangannya menunjukkan adanya dorongan biologis yang kuat untuk memusatkan perhatian pada satu orang tertentu, yaitu pasangannya tadi. Aliran darah meningkat di bagian otak yang penuh dengan ujung saraf penerima dopamine, menimbulkan perasaan senang yang melambung, serupa dengan yang dialami oleh orang yang kecanduan. Bila intensitasnya tinggi, hal itu mengakibatkan pemusatan perhatian, ingatan pendek, hiperaktivitas, susah tidur, dan perilaku yang berorientasi pada tujuan. Begitulah, orang yang tengah asyik pacaran cenderung suntuk hanya memerhatikan urusan hubungan satu sama lain. Ibaratnya: dunia hanya milik mereka berdua, semua orang yang lain pada kontrak.
Ada lagi penjelasan lain mengenai hal tersebut. Menurut peneliti di University College London, orang yang sedang jatuh cinta memiliki kadar serotonin yang rendah. Kadar serotonin yang rendah ini serupa dengan yang ditemukan pada penderita gangguan obsesif-kompulsif. Apa pula itu? Bila pacar Anda setiap lima menit selalu menelepon untuk mengetahui Anda sedang berada di mana, Anda sedang melakukan apa, dan Anda sedang bersama dengan siapa—bolehlah Anda curiga bahwa ia penderita gangguan obsesif-kompulsif tak terkendali. Kalau masih terkendali, pasangan yang sedang jatuh cinta akan beranggapan ”engkau diciptakan hanya untukku, dan aku diciptakan hanya untukmu”; tak sudi berbagi dengan yang lain. Begitulah.
Selain itu, sirkuit saraf yang berkaitan dengan kemampuan menilai orang lain juga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Orang yang jatuh cinta kehilangan obyektivitasnya, tidak mampu berpikir secara rasional—paling tidak dalam menilai sang dambaan hati. Lagu-lagu pop yang mendendangkan ”cinta itu buta” terbukti keakuratannya dalam tahap romantis ini. Sang Romeo memusatkan perhatian pada kebaikan dan keunggulan sang Juliet, serta mengabaikan dan mengampuni kelemahannya; begitu pula sebaliknya. Si cowok melihat ceweknya bagaikan Putri Jelita nan Rupawan; si cewek memandang cowoknya laksana Pangeran Tampan yang Berjaya. Sejoli yang sedang mabuk asmara ingin menghabiskan waktu selama mungkin, berduaan dan berdekatan, berusaha mengenal satu sama lain lebih dalam. Kalau tidak diancam agar segera pulang oleh orangtua atau diusir oleh ibu kos karena melewati batas waktu berkunjung, mana mau mereka berpisah. Inilah masa-masa ”tahi kucing rasa cokelat”.
Tahap ini, tentu saja, tidak bertahan sampai selama-lamanya. Secara hormonal, bahan-bahan kimia yang menyokong perasaan cinta yang membuncah itu lama-lama menyusut juga. Akibatnya, daya pesona sang kekasih yang semula begitu menyilaukan gara-gara pengaruh ’hormon cinta’ tadi perlahan-lahan akan memudar. Jerawat di wajah yang sempat terabaikan kembali terlihat mencolok. Obyektivitas dan rasionalitas kembali berbicara. Sosok si dia sebenarnya tetap sama, namun kini kita menilainya dengan sewajarnya.
Pasangan tersebut menghadapi persimpangan. Dengan masuknya pertimbangan yang obyektif dan penalaran yang rasional, mereka dapat menimbang-nimbang secara—mudah-mudahan—lebih bening. Mereka, dengan berbagai alasan, bisa memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut. Bisa pula mereka mendapati bahwa hubungan mereka cukup kuat dan layak untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Apa pun pilihan yang mereka ambil, diakhiri atau dilanjutkan, tahap cinta romantis atau masa pacaran sudah game over. Bila diakhiri, cepat atau lambat mereka masing-masing akan menjajaki hubungan pacaran yang baru dengan orang yang lain. Bila dilanjutkan, mereka akan memasuki tahap hubungan yang baru, hubungan pernikahan, dengan karakteristik yang berbeda dari hubungan pacaran. **

Kamis, 22 September 2011

Peristiwa Kimia Pada Minuman Bersoda!!!!

Minuman soda ada proses kimianya? Banyak....Tapi yang akan aku bahas kali ini hanya peristiwa ketika kita membuka botolnya pertama kali. Ok, here we goes...


  Soda ~(sebenarnya bir dan sampanye juga sih, tapi aku ngebahas soda aja)~ berdesis ketika dibuka berkat gas karbon dioksida, yang telah dilarutkan ke dalam cairan selama proses pembotolan. Suara desis terjadi ketika gelembung-gelembung karbon dioksida kabur dari cairan ke udara bebas.Ketika itu terjadi di mulut kita, kita mendapatkan sensasi tajam yang menggelitik. Tapi, kalau desis itu terlalu kuat, busa akan lengket atau menyebar ke mana-mana.


   Dalam proses pembotolan, gas tadi dimampatkan sampai mencapai tekanan kira-kira 2 kali tekanan udara dalam ban mobil. Pada saat botol itu dibuka, biarpun udah hati-hati, karbon dioksida bertekanan itu langsung bersemangat karena mendapat kesempatan untuk menghirup udara bebas. Maklum, di dalam botol kan sempit, ditekanan tinggi lagi. Maka tidak mengherankan bila seluruh karbon dioksida yang semula terlarut serempak berdesakan keluar dari minuman.

   Oh ya, soda itu sebenarnya hasil dari reaksi antara karbon dioksida tadi dengan air, yaitu berupa asam karbonat (sering ditulis di botolnya kan, MINUMAN BERKARBONASI). Asam karbonat itulah yang menambah rasa agak tajam yang khas pada soda.



   Kembali ke masalah awal, seperti yang udah kusebutkan tadi, gas yang dimapatkan itu kan mau keluar tuh, tapi sebenarnya prosesnya itu berjalan lambat lho. Karbon dioksida tidak keluar sekaligus satu keluarga besar, mereka keluar dalam kelompok kecil gas-gas. Itulah kenapa ketika kita menuang minuman bersoda ke gelas, dan membiarkannya cukup lama, ia akan kehilangan sodanya dan hanya menjadi seperti sirup biasa.

   Jadi Bagaimana untuk menjaga sodanya agar jangan berkurang??
 Oh..tidak bisa. Biar gimanapun pasti berkurang, tapi kita bisa memperlambat nya dengan cara jangan membuka tutup botolnya lama-lama, dan menyimpannya di kulkas, karena udara dingin sangat membantu lho (kapan-kapan aku kasih tau kenapa ia sangat membantu).